Dukungan penuh Lurah Kampung Bugis, Ibu Rita Siswati, terhadap inovasi HSRT Tim PPK ORMAWA BDP UMRAH.
TANJUNGPINANG – Dipimpin oleh Venti Julian, 14 mahasiswa Jurusan Budi Daya Perairan (BDP) UMRAH berhasil membawa perubahan nyata di Kampung Madong melalui program PPK ORMAWA. Di bawah bimbingan langsung Ketua Jurusan BDP, Shavika Miranti, S.Pi., M.Si., mereka menghadirkan teknologi bak terpal untuk pendederan ikan Kerapu Cantang yang lebih efisien, praktis, dan terjangkau.
Selama ini, nelayan Madong hanya mengandalkan Keramba Jaring Apung (KJA) dan Tancap (KJT). Kehadiran teknologi bak terpal ini menjadi magnet baru, bahkan memicu antusiasme ibu-ibu setempat untuk terjun langsung ke dunia budidaya. Fasilitas yang dibangun bersama warga ini kini resmi menjadi Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) pertama di wilayah tersebut.
Solusi Pangkas Biaya Benih bagi Nelayan
Manfaat teknologi ini dirasakan langsung oleh Amzah, pembudidaya lokal. Ia mengaku kini tak perlu lagi mendatangkan benih ukuran besar (8 cm) dari luar kota dengan harga mahal. “Cukup beli benih 3 cm yang lebih murah, lalu kami dederkan dulu satu bulan di bak terpal sebelum ke laut. Ini sangat membantu ekonomi dan memberdayakan warga lokal,” ungkapnya optimis.
Lurah Kampung Bugis, Rita Siswati, S.Sos., yang meninjau langsung lokasi, menyatakan kebanggaannya atas inisiatif tersebut. Inovasi mahasiswa BDP UMRAH dinilai sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir di Kampung Madong.
Ilmu Kampus Jadi Solusi Penyakit Ikan
Tantangan sempat muncul saat serangan penyakit melanda perairan Madong hingga menyebabkan 900 ekor ikan di KJA warga mati. Namun, Tim PPK ORMAWA bergerak cepat menerapkan hasil riset dosen dan mahasiswa BDP UMRAH. Dengan teknik perendaman bubuk bawang putih dosis 1 gram/liter, tingkat kematian ikan di bak terpal berhasil ditekan secara signifikan.
Setiap hari, tim melakukan pendampingan harian mulai dari kontrol pakan hingga pengecekan parameter air (pH, salinitas, suhu). Saat ini, ikan Kerapu Cantang hasil pendederan telah mencapai ukuran 7 cm dan siap didistribusikan ke keramba milik anggota kelompok.
Implementasi MBKM: Belajar Sekaligus Mengabdi
Fasilitas HSRT yang kini menjadi aset modal usaha baru bagi masyarakat Kampung Madong.
Selain memberikan kontribusi bagi masyarakat, program ini merupakan implementasi kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Venti dan timnya berhak mengonversi kegiatan ini menjadi 20 SKS mata kuliah, sambil terus mengasah soft skill dalam pemberdayaan masyarakat.
Akhir kegiatan ini akan ditandai dengan serah terima fasilitas kepada kelompok usaha baru di Kampung Madong. Harapannya, instalasi bak terpal ini akan terus beroperasi sebagai aset produktif yang mampu meningkatkan taraf hidup nelayan lokal secara berkelanjutan.
