Marine Gurindam Seminar Series 3

FIKP UMRAH dan UniSZA Malaysia Bedah Tantangan Biota Invasif dan Domestikasi Gonggong di Marine Gurindam Seminar Series 3

TANJUNGPINANG โ€” Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) sukses menggelar agenda akademik internasional bertajuk International Visiting Lecturer โ€“ Marine Gurindam Seminar Series 3. Berkolaborasi dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, seminar berskala internasional ini dilaksanakan secara hybrid berpusat di Amphitheater Room, Lantai 4, Gedung B, Kampus UMRAH Dompak, serta disiarkan secara virtual melalui Zoom Meeting pada Minggu, 14 Juni 2026.

Mengangkat tema besar “Exploration of Aquaculture Commodities: Gonggong Conch in Indonesia and Lobster in Malaysia”, seminar ini menghadirkan dua pakar perikanan regional untuk membedah perkembangan riset, tantangan nyata, serta peluang pengembangan komoditas akuakultur unggulan di kedua negara.

Dokumentasi Seminar
Kolaborasi akademik internasional FIKP UMRAH dan UniSZA Malaysia yang dihadiri oleh narasumber dan mahasiswa secara hybrid.

1. Dinamika Parasit dan Redclaw di Malaysia: Efek Samping Kondisi Ikan Terkurung

Dokumentasi Seminar
Suasana kondusif jalannya seminar internasional di ruang Amphitheater Kampus UMRAH Dompak.

Sebagai pembicara pertama, Dr. Norshida Ismail dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, menyampaikan materi bertajuk “From Invasion to Infestation: Exploring Cherax quadricarinatus and Fish Parasitic Crustacean Diversity in Malaysia”. Dalam paparannya, beliau mengulas keanekaragaman kopepod (copepod) di Malaysia, di mana risetnya berhasil mengidentifikasi sekitar 39 spesies kopepod, dengan salah satu spesies di antaranya ditemukan menginvasi bagian insang ikan kakap putih (Lates calcarifer).

Secara biologis, kehadiran parasit ini pada dasarnya merupakan fenomena alami dengan tujuan universal makhluk hidup untuk bertahan hidup. Namun, permasalahan ekologis mulai muncul ketika manusia membudidayakan ikan kakap tersebut.

Ketika ikan dibudidayakan, kondisi ruang gerak mereka menjadi terbatas atau terkurung. Lingkungan yang terkurung inilah yang memicu parasitโ€”yang awalnya hanya hidup normal di alam bebasโ€”menjadi mewabah, berkembang biak dengan cepat, hingga mengalami proses evolusi. Kondisi ini diperparah oleh faktor lingkungan musiman; pada musim panas, kepadatan populasi parasit seperti kopepod atau Argulus (pada ikan kerapu) dapat meningkat tajam, memicu rasa gatal dan luka pada ikan yang berujung pada kematian tidak langsung.

Dokumentasi Seminar
Slide presentasi Dr. Norshida Ismail mengenai keanekaragaman dan mekanisme adaptasi biologis parasit pada ikan.

Terkait introduksi lobster air tawar Cherax quadricarinatus (Redclaw) di Malaysia, Dr. Norshida menekankan bahwa sifat invasif hewan ini berakar dari aktivitas antropogenik manusia. Makhluk hidup pada dasarnya hanya beradaptasi mengikuti perubahan lingkungan yang diciptakan manusia. Redclaw secara alami merupakan herbivor-detritivor yang tidak berbahaya. Namun, karena mampu memijah dan bertelur sepanjang tahun, populasinya cepat melonjak saat terlepas ke suatu kawasan.

Meski dampak ancamannya terhadap biota asli (native) masih terus dipelajari dan belum disimpulkan secara mutlak, kebiasaan makan Redclaw dikhawatirkan dapat memengaruhi spesies lokal. Oleh karena itu, Dr. Norshida menegaskan bahwa langkah pengelolaan yang paling tepat adalah pembatasan, bukan eradikasi atau pemusnahan.

2. Peta Jalan Domestikasi Siput Gonggong: Dari Lab Menuju Perairan Terbuka

Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Muzahar, S.Pi., M.Si. dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Indonesia, yang membedah kesiapan budidaya lokal melalui materi “Gonggong Conch Aquaculture: Is It Feasible?”. Beliau menyoroti tingginya konsumsi siput gonggong (Strombus sp.) untuk produk bernilai ekonomi seperti kopi gonggong, kerupuk, dan sambal, yang memicu kekhawatiran akan habisnya stok alam akibat eksploitasi berlebih.

Dr. Muzahar menegaskan prinsip dasar akuakultur bahwa semua hewan air liar pada dasarnya dapat didomestikasi. Proses domestikasi ini dinyatakan berhasil apabila telah melewati berbagai tahapan dan sukses masuk ke keturunan kedua (F2) atau lebih, yang hingga saat ini metodenya masih terus dikembangkan.

Berdasarkan rangkaian riset yang telah berjalan, Dr. Muzahar memaparkan beberapa temuan biologis kunci:

  • Kedekatan Taksonomi: Melalui uji taksonomi, ditemukan bahwa gonggong di daerah Tanjungpinang dan Bintan masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan berbagai spesies sejenis lainnya.
  • Morfologi Berbasis Ekologi: Terdapat perbedaan bentuk fisik yang signifikan berdasarkan habitat substratnya. Gonggong dari lumpur berpasir memiliki warna cangkang agak kemerahan, sedangkan yang hidup di pasir murni berwarna putih.
  • Aspek Nutrisi: Makanan yang disukai di alam adalah makrobentos atau Polychaeta, sedangkan pakan utama untuk siput gonggong dewasa dalam wadah budidaya adalah mikroalga Skeletonema costatum.
  • Fisiologi & Reproduksi: Secara anatomi, jenis kelamin dapat dibedakan dari warna gonad; jantan berwarna oranye dan betina berwarna krem dengan ukuran tubuh betina yang jauh lebih besar. Uniknya, saat dikawinkan di dalam akuarium, ditemukan bahwa sperma gonggong jantan memiliki 3 macam variasi bentuk.

Menjawab pertanyaan besar mengenai kelayakan budidaya, Dr. Muzahar menyimpulkan bahwa siput gonggong sangat bisa untuk dibudidayakan. Namun, riset lanjutan yang mendalam masih diperlukan, salah satunya untuk menentukan batas toleransi salinitas (kadar garam) optimal.

Siklus perkembangan dari telur menjadi juwana memerlukan waktu sekitar 3 minggu sampai 1 bulan, dan membutuhkan waktu sekitar 1 tahun untuk tumbuh menjadi dewasa. Untuk strategi pengembangannya, peringkat awal budidaya sebaiknya dilakukan di dalam laboratorium (sistem lab) agar lebih mudah dikontrol, baru kemudian dipindahkan ke perairan terbuka (open water) apabila ukuran biota sudah membesar.

Keamanan Pangan dan Kesimpulan

Seminar ini juga meluruskan kekhawatiran audiens mengenai aspek kesehatan konsumen. Apabila ikan yang terinfestasi parasit diolah, hal tersebut bisa berbahaya bagi tubuh manusia jika parasitnya berasal dari keluarga cacing. Kendati demikian, bahaya ini dapat dihindari sepenuhnya melalui metode pengolahan yang benar dan higienis. Suhu memasak yang tepat dipastikan dapat mematikan parasit, dengan rekomendasi tegas untuk menghindari konsumsi ikan budidaya dalam kondisi mentah.

Acara International Visiting Lecturer ini sukses menjadi wadah pertukaran ilmu lintas negara sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional antara UMRAH dan UniSZA. Kesimpulan akhir dari rangkaian seminar ini menegaskan bahwa keberlanjutan industri perikanan budidaya tidak hanya bertumpu pada teknik produksi, melainkan wajib berjalan beriringan dengan pemahaman mendalam terhadap biologi reproduksi, pengelolaan kesehatan biota, serta mitigasi dampak lingkungan akibat aktivitas manusia.

Dokumentasi Seminar
Dokumentasi keaktifan dan antusiasme puluhan peserta seminar dari berbagai instansi yang tergabung melalui Zoom Meeting.
Scroll to Top